mengontrol pc

WINLIRC
Bab ini akan membahas instalasi, menu-menu yang tersedia,
konfigurasi, status, mematikan dan menjalankan pembacaan, dan
hal-hal teknis Winlirc.
Winlirc berfungsi sebagai software listener yang selalu
mendengarkan/menerima sinyal-sinyal yang diterima IR Receiver
dari remote control. Sinyal-sinyal yang diterima tersebut didekode
untuk dikirimkan ke software pengolah data. Salah satu software
pengolah data adalah IrAssistant yang akan kita bahas pada bab IV.
Winlirc adalah versi ekuivalen Lirc, Linux InfraRed Remote Control
(www.lirc.org) yang memiliki fungsi sejenis tapi bekerja pada
lingkungan Linux. Winlirc dapat diperoleh pada
http://winlirc.sourceforge.net.
3.1 Instalasi Winlirc
Instalasi Winlirc sangat cepat dan mudah. Download versi terbaru
pada http://prdownloads.sourceforge.net/winlirc/winlirc-0.6.5.zip?
download. Saat buku ini disusun, Winlirc telah mencapai versi 0.6.5.
Langkah-langkah instalasi Winlirc adalah sebagai berikut:
1. Ekstrak file winlirc-0.6.5.zip pada direktori tertentu, misalnya
C:\Winlirc.
2. Hasil ektraksi ditunjukkan seperti pada gambar di bawah ini.
Lihat Gambar 3.1.
3. File yang diperlukan adalah Winlirc.exe. Lihat Gambar 3.2.
18
Gambar 3.1 Ekstrak paket Winlirc
Gambar 3.2 Hasil ekstraksi paket Winlirc
19
3.2 Menu-Menu Pada Winlirc
Sebelum kita melangkah pada konfigurasi Winlirc, ada baiknya bila
kita mengenal terlebih dahulu menu dan fungsi yang terdapat pada
program Winlirc.
Menu pada Winlirc dibagi menjadi dua, yakni menu utama dan menu
konfigurasi.
3.2.1 Menu Utama
Gambar 3.3 menunjukkan menu utama pada Winlirc, yakni:
􀀻 Reconfigure: Mengklik tombol ini akan membawa Anda pada
menu konfigurasi.
􀀻 Hide Window: Menyembunyikan Winlirc dari screen namun tetap
aktif pada system tray.
􀀻 Exit LIRC: Keluar dari Winlirc dan Winlirc tidak aktif sama sekali.
􀀻 ComboBox Remote: Memilih konfigurasi remote yang telah
dibuat untuk dikirimkan ke software pengolah data.
􀀻 ComboBox Code: Memilih kode yang dikirimkan kepada software
pengolah data.
Gambar 3.3 Menu utama Winlirc
20
􀀻 ComboBox Repeats: Menentukan berapa kali kode akan
dikirimkan (0 untuk mengirim hanya sekali).
􀀻 Send Code: Mengklik tombol ini akan mengirimkan kode ke
software pengolah data.
3.2.2 Menu Konfigurasi
Gambar 3.4 menunjukkan menu konfigurasi pada Winlirc, yakni:
􀀻 ComboBox Port: Menyatakan serial port dimana perangkat
IR-Receiver dipasang. Pilih serial port dari list yang ada atau
ketikkan secara manual, misalnya COM8.
􀀻 ComboBox Speed: Menyatakan kecepatan transfer serial port
dalam satuan bits per second (bps). Nilai ini penting untuk RX
device.
􀀻 ComboBox Sense: Menentukan receiver dalam kondisi active high
atau active low. Direkomendasikan untuk menggunakan nilai
Autodetect.
􀀻 Receiver Type
Radio RX Device: Receiver yang menggunakan pin RX.
Radio DCD Device: Receiver yang menggunakan pin DCD.
􀀻 EditBox VirtualPulse: Menentukan panjang pulsa pada RX
Receiver.
􀀻 CheckBox Animax: Mengeset pin DTR. Receiver Animax
menggunakan pin ini sebagai power.
􀀻 CheckBox No Tray Icon: Menyembunyikan tray icon.
􀀻 Transmitter Settings
CheckBox Inverted: Men-swap sinyal output.
CheckBox Hardware Carrier: Mencegah Winlirc
menghasilkan carrier frequency.
Radio DTR: Transmiter menggunakan pin DTR.
Radio TX: Transmiter menggunakan pin TX.
􀀻 Editbox Config: Menyatakan alamat path dari file konfigurasi.
21
􀀻 Browse: Mengklik tombol ini akan memilih file konfigurasi.
􀀻 Learn: Mengklik tombol ini akan menjalankan prosedur
pengenalan sinyal dari remote control. Hasilnya akan disimpan
dalam file konfigurasi yang telah ditentukan.
􀀻 Analyze: Menganalisa raw data yang terdapat pada file
konfigurasi. Langkah ini biasanya dilakukan setelah melakukan
prosedur learning.
􀀻 Raw Codes: Mencetak data raw-timing yang didapat dari
remote. Cara ini dapat memastikan bahwa remote dan IR
Receiver yang digunakan dapat bekerja dengan baik.
􀀻 OK: Menyimpan file konfigurasi kedalam registry Windows dan
memulai Winlirc.
􀀻 Cancel: Membatalkan perubahan. Perlu diperhatikan bahwa file
konfigurasi telah disimpan ketika melakukan prosedur Learn
atau Analyze.
Gambar 3.4 Menu konfigurasi Winlirc
3.3 Konfigurasi Winlirc
Jalankan file Winlirc.exe yang telah kita ekstrak tadi dengan
mengklik ganda file tersebut sehingga Gambar 3.5 akan muncul. Oleh
karena Winlirc belum dikonfigurasi untuk mengenali sinyal-sinyal IR
pada remote control kita, maka yang ditampilkan adalah pesan
kesalahan. Klik OK untuk melakukan konfigurasi.
22
Gambar 3.5 Winlirc belum dikonfigurasi
Pada menu utama (Gambar 3.6), kita menentukan nilai Port, Speed,
Sense, Receiver Type dan Transmitter Setting yang akan
digunakan. Oleh karena rangkaian elektronik kita mengambil data
pada DCD (pin 1 pada rangkaian elektronik IR Receiver), maka nilai
Receiver Type adalah DCD.
Pasangkan rangkaian IR Receiver yang telah kita buat pada serial
port yang tersedia pada PC dan sedang tidak digunakan oleh program
lain. Penulis menggunakan nilai setting port COM1, Speed 115200,
Receiver Type DCD, Transmitter Setting DTR dan Sense Autodetect.
Perhatikan rangkaian IR Receiver terpasang pada serial port yang
sesuai dengan nilai port yang ditentukan pada Winlirc dan pastikan
pula serial port tersebut bebas dari aplikasi yang lain. Bila Anda
salah memasang atau serial port tersebut sedang digunakan, dapat
dipastikan bahwa program tidak akan berfungsi dengan benar. Bebas
tugaskan port yang sedang digunakan tersebut atau pilih port yang
lain, misalnya COM2.
Kita juga dapat mencoba nilai lainnya yang disesuaikan dengan
perangkat PC dan remote control yang digunakan.
Tabel di bawah ini menunjukkan nilai setting yang memungkinkan.
Port COM1, COM2, COM3, COM4, COM5, COM6, COM7,
COM8 atau sesuai dengan nilai yang dimasukkan
Speed 1200, 2400, 4800, 9600, 14400, 19200,38400,
56000, 57600, 115200, 128000, 256000
23
Receiver Type RX, DCD
Transmitter
Settings Inverted, hardware carrier dengan DTR atau RX
Sense Autodetect, 0 (Low), 1 (High)
Setelah memasukkan nilai setting dengan benar, klik Browse untuk
menentukan file konfigurasi yang digunakan, sekaligus menyimpan
hasil pengaturan (Gambar 3.6).
Gambar 3.6 Menu konfigurasi Winlirc
Informasikan file konfigurasi yang diinginkan, misalnya creative.cf,
lalu klik Open (Gambar 3.7). Nama file konfigurasi harus berakhiran
cfg, conf, cf atau rc.
Gambar 3.7 Menentukan File Konfigurasi
24
Setelah memberikan file konfigurasi, klik Learn untuk memulai
prosedur pengenalan dan perekaman sinyal IR masing-masing tombol
pada remote control (Gambar 3.8).
Gambar 3.8 Learning sinyal
Masukkan sembarang nama remote, gunakan nama remote yang
sama untuk memudahkan langkah-langkah selanjutnya, yaitu
creative. Nama remote tidak boleh menggunakan karakter spasi atau
karakter spesial lainnya. Setelah selesai, klik Enter (Gambar 3.9).
Gambar 3.9 Menentukan Nama Remote
Langkah selanjutnya adalah menentukan margin kesalahan variasi
sinyal yang diterima oleh IR Receiver. Margin ini berkisar antara 1%
hingga 99%. Nilai default-nya adalah 25%, tetapi nilai ini bukanlah
patokan karena harus disesuaikan dengan hardware dan software
25
yang digunakan. Pengalaman menunjukkan bahwa jika sinyal remote
mengalami kesulitan untuk dikenali, perbesar nilai margin untuk
mentolerir kesalahan itu.
Gambar 3.10 menunjukkan kotak dialog margin kesalahan yang harus
diisikan. Menggunakan nilai default (25%) cukup dengan mengklik
Enter.
Gambar 3.10 Menentukan nilai error margin
3.3.1 Langkah-Langkah
Berikut adalah langkah-langkah yang diperlukan untuk mengenali
karakteristik sinyal-sinyal pada tombol remote.
Langkah 1: Menentukan Nilai Signal Gap, Signal Length, dan
Repeat Code
Nilai ini dapat diisikan secara manual maupun otomatis. Untuk
memudahkan, klik Enter untuk menentukan secara otomatis
(Gambar 3.11).
Tekan sembarang tombol pada remote. Jangan takut untuk tidak
mendapatkan sinyal gap, sinyal length dan repeat code pada langkah
awal. Coba terus melakukannya berulang-ulang. Pada remote dan
pengaturan nilai margin kesalahan yang berbeda, hasil yang
didapatkan dapat berbeda pula.
26
Gambar 3.11 Menentukan secara otomatis
Perhatikan bahwa penekanan tombol bisa dilakukan secara terusmenerus
atau tidak terus-menerus dengan terdapat jeda sekitar 1
hingga 1½ detik di antara penekanannya (Gambar 3.12). Cara
tersebut relatif untuk masing-masing remote control. Perlakuan
terhadap remote control yang satu mungkin berbeda dengan remote
control yang lain. Penulis menggunakan cara penekanan putus-putus
pada semua remote yang digunakan (lihat Bab I untuk informasi
mengenai daftar remote yang digunakan).
Gambar 3.12 Menentukan signal gap, signal length, dan repeat codes
Bila telah dilakukan segala cara tetapi tidak didapatkan respons,
lakukan langkah prosedur Raw Code dengan mengklik Raw Codes
pada menu konfigurasi. Perhatikan adanya respons yang didapat dari
raw code tersebut. Bila respons belum didapat juga, coba ganti nilai
pengaturan port dan nilai lainnya pada menu konfigurasi serta
27
jangan lupa cek pengkabelan dan komponen lainnya pada IR
Receiver.
Terus lakukan penekanan hingga pesan Please wait a second and
press it again muncul. Tekan kembali hingga mendapatkan pesan
Baseline initialized. Please wait a second and press a button again
(10 left). Pada bagian ini, software meminta pengguna untuk
melakukan penekanan sebanyak 10 kali (Gambar 3.13).
Bila terdapat pesan Did not get a consistent signal, atur nilai jeda
antara penekanan tombol.
Gambar 3.13 Penekanan sebanyak 10 kali
Gambar 3.14 Pesan kesalahan
Bila terdapat pesan kesalahan seperti yang ditunjukkan
Gambar 3.14, ulangi dari langkah awal kembali. Pesan ini muncul
28
karena jeda penekanan tombol yang terlalu cepat atau terlalu
lambat, atau rangkaian IR Receiver tidak bekerja dengan baik. Coba
ulangi langkah-langkah di atas dengan nilai port dan pengaturan
Winlirc dan remote yang berbeda. Pastikan pula untuk menutup
program aplikasi yang sedang berjalan untuk meringankan beban
komputer. Bila semua langkah sudah dilakukan, coba lakukan pada
komputer yang memiliki clock CPU yang lebih tinggi.
Langkah 2: Menentukan Input Tombol
Bila tidak terdapat pesan kesalahan, tentukan nama dari tombol
tersebut. Misalnya sebut saja nama tombol tersebut dengan nama
Paused pada bagian Input dan klik Enter (Gambar 3.15).
Pemberian nama harus spesifik di antara masing-masing tombol.
Nama-nama tombol inilah yang akan dikenali program pengolah data
nantinya.
Gambar 3.15 Memberikan nama tombol
Pada tombol yang telah kita beri nama tadi, yakni tombol Paused,
akan dilakukan perekaman sinyal. Tekan tombol Paused tersebut
hingga mendapat perintah berhenti (Stop). Di sini dilakukan
pengambilan sampel sebanyak 64 kali seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 3.16.
Lakukan penekanan tombol hingga mendapatkan pesan Baseline
initalized. Jumlah matches harus mencapai 64 dan perbandingan
antara jumlah faults dan matches harus sekecil-kecilnya. Pesan
Stop. Failed to get a consistent signal. Please try again muncul jika
nilai faults lebih besar daripada nilai matches seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 3.17. Ulangi penekanan tombol kembali
29
dan jangan lupa untuk memainkan waktu jeda pada setiap
penekanannya.
Gambar 3.16 Input button
Gambar 3.17 Pengambilan sample
Bila perekaman sinyal berhasil maka pesan Button ‘Paused’ recorded.
Do you wish to keep this recording? akan muncul seperti ditunjukkan
pada Gambar 3.18. Klik Yes untuk melanjutkan perekaman sinyal.
Lakukan perekaman sinyal untuk tombol-tombol remote lainnya.
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sama seperti pada
langkah (2) di atas.
30
Gambar 3.18 Tombol paused berhasil direkam
Apabila semua tombol telah direkam, klik Enter untuk menyudahi
perekaman (Gambar 3.19).
Gambar 3.19 Menyudahkan perekaman
Apabila semua perekaman sinyal tombol remote telah berhasil
dilakukan, simpan semua konfigurasinya dengan mengklik OK
(Gambar 3.20).
Jangan lupa untuk menganalisa sinyal-sinyal yang telah berhasil
direkam untuk mengecek kesalahan yang mungkin timbul dengan
mengklik tombol Analyze. Klik OK untuk kembali ke menu utama
seperti ditunjukkan pada Gambar 3.21. Data-data sinyal untuk
remote control Panasonic, Hisen, dan Creative yang digunakan
terdapat pada CD pendukung buku ini.
31
Gambar 3.20 Menyimpan konfigurasi perekaman sinyal
Gambar 3.21 Menganalisa sinyal yang didapat
Untuk mengirim data manual kepada software pengolah data, pilih
remote (creative) dan code (paused), lalu klik Send Code
(Gambar 3.22).
Gambar 3.22 Mengirimkan sinyal secara manual
Klik Hide Window (Gambar 3.23) untuk menyembunyikan Winlirc dan
meletakkannya pada system tray seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 3.24.
32
Gambar 3.23 Menyembunyikan Winlirc
Gambar 3.24 Indikator Winlirc pada System Tray
3.4 Status Winlirc
Ada beberapa status pada Winlirc yang ditandai dengan warna-warna
icon pada system tray.
Status Keterangan
Inisialisasi hardware dan membaca konfigurasi.
Hardware belum diinisialisasi atau terjadi kesalahan pada
saat inisialisasi.
Sinyal berhasil didekode. Icon ini hanya akan terlihat
sementara. Coba tekan tombol remote dan perhatikan
status icon.
Winlirc dalam keadaan siap menerima sinyal. Icon ini yang
akan selalu dilihat.
Sinyal telah dikirim kepada aplikasi pengolah data. Icon
ini hanya terlihat sementara.
33
3.5 Mematikan dan Menjalankan Winlirc
Untuk mematikan Winlirc, klik kanan pada icon status pada sistem
tray lalu klik tombol Exit WinLIRC. Klik tombol Toggle Window
untuk menampilkan kembali menu utama Winlirc.
Gambar 3.25 Mematikan dan menjalankan Winlirc
3.6 Hal-hal Teknis
Winlirc menyimpan hasil setting pada registry windows pada alamat
lokasi HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\LIRC. Ketikkan regedit
pada DOS prompt untuk membuka program Registry Editor Windows
(Gambar 3.26).
Data-data setting disimpan dalam format yang ditunjukkan pada
tabel berikut.
Nama Type Data
animax REG_DWORD 1 hexadesimal
conf REG_SZ C:\Winlirc\creative.cf
devicetype REG_DWORD 1 hexadesimal
notrayicon REG_DWORD 1 hexadesimal
port REG_SZ COM1
sense REG_DWORD 2 hexadesimal
speed REG_DWORD 1c200 hexadesimal
(115200 desimal)
34
transmittertype REG_DWORD 0 hexadesimal
virtpulse REG_DWORD 2710 hexadesimal (10000
desimal)
tcp_port DWORD 8765
Gambar 3.26 Nilai registry Winlirc
Winlirc menggunakan port standar, yakni 8765 untuk mengirimkan
kode-kode sinyal. Dalam hal ini Winlirc berfungsi sebagai server
TCP/IP yang akan mengirimkan kode data melalui port standarnya
kepada aplikasi lain untuk berkomunikasi, misalnya aplikasi pengolah
data (Winlirc client) yang akan kita bahas pada bab berikutnya.
Gambar 3.27 Winlirc sebagai server

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s